Kajian Semantik bahasa Jepang beserta Contohnya

Semantik adalah suatu bidang Linguistik yang mempelajari tentang makna, yang kemudian dapat diartikan secara beragam. Menurut Harimurti Kridalaksana (2001 : 132) dalam Kamus Linguistik, pengertian makna dijabarkan menjadi 4 kategori, yaitu maksud pembicara, pengaruh penerapan bahasa dalam pemakaian persepsi atau perilaku manusia atau kelompok manusia, hubungan dalam arti kesepadanan atau ketidak sepadanan antara bahasa atau antara ujaran dan semua hal yang ditunjukkannya, dan cara menggunakan lambang-lambang bahasa.
Sementara dalah hal analisis, semantik dibedakan Menurut makna eksentional dan makna intensionalnya. Makna eksentional mengacu pada kondisi di saat kita menutup mulut dan menunjuk arah sesuatu yang kita kehendaki maka disinilah yang disebut makna eksentional. Sedangkan makna intensional, ialah ketika menutup mata dan mengucapkan beberapa kata, atau ketika kita membiarkan beberapa kata melintas di pikiran kita maka disinilah lahir sebuah makna intensional.
Dalam Suatu Pembahasan Sematik bahasa Jepang ada 4 kajian yang dititik-beratkan, diantaranya adalah makna kata, relasi makna, makna frase, dan makna kalimat. Berikut pembahasan dari masing-masing bagiannya,

Makna Kata
Dalam bahasa Jepang terdapat makna sinonim atau yang disebut dengan “Ruigigo” atau “Dogikankei” . Misalnya saja kata memakai yang jika dalam bahasa Indonesia sinonimnya adalah menggunakan atau mengenakan. Dalam bahasa Jepang, ada beberapa kata yang memiliki makna bersinonim dengan “memakai”, misal kata ’shimeru’ (しめる) digunakan ketika seseorang akan memakai dasi, ‘kiru’ (着る) untuk pakaian, ’kakeru’ (かける) untuk kacamata, ’hameru’ (はめる) untuk aksesoris seperti cincin, arloji, dsb.
Dalam bahasa Jepang terdapat pula kata yang memiliki makna lebih dari satu makna atau “Tagigo” yang kita sebut Polisemi dalam bahasa Indonesia. Polisemi ini dalam bahasa Jepang dideskripsikan menjadi 3 gaya bahasa (majas), diantaranya :
• Metafora , yaitu suatu gaya bahasa untuk mengungkapkan sesuatu hal dengan hal yang memiliki kemiripan sifat. Contoh : 男は狼である”Otoko wa ookami de aru” yang artinya “Laki-laki itu (semuanya) srigala”.
• Metonimi, yaitu gaya bahasa untuk mengungkapkan suatu hal dengan hal lain yang memiliki kedekatan atau keterikatan. Contoh : なべが煮える”Nabe ga nieru” yang artinya “Panci mendidih”.
• Sinekdok, gaya bahasa yang digunakan untuk mengungkapkan suatu hal dengan hal lain yang memiliki arti umum atau sudah mewakili. Contoh : 毎朝、パンとたまごをたべて いる “Maiasa, pan to tamago o tabete iru” yang artinya “Setiap pagi (saya) makan roti dan telur”, telur yang dimaksud di sini adalah telur ayam.

Relasi Makna
Relasi makna merupakan hubungan semantik yang terdapat antara satu kata atau satuan bahasa dengan kata yang lain. Relasi makna terbagi atas antonim, sinonim, serta super ordinat.
Khusus untuk antonim terdapat beberapa sifat yang berbeda, diantaranya :
• Antonim bersifat mutlak, contoh : diam x bergerak
• Antonim bersifat relatif (bergradasi), contoh : jauh x dekat
• Antonim bersifat relasional, contoh : suami x istri
• Antonim bersifat hierarkial, contoh : tamtama x bintara

Makna Frase
Dalam bahasa Jepang, “hon o yomu”(本を読む), “kutsu o kau”(靴 を買う), dan “hara ga tatsu”(原がたつ)yang berarti “marah” dianggap sebagai suatu frase. Dalam makna frasa terdapat 2 makna yaitu makna frase secara leksikal dan makna frase secara idiomatical, dalam bahasa Jepang ada frase yang hanya bermakna secara leksikal saja, idiomatikalnya saja, atau bermakna keduanya.

Makna Kalimat
Makna kalimat juga menjadi suatu objek kajian semantik, karena makna suatu kalimat ditentukan oleh makna dari setiap kata dan strukturnya. Penggunaan suatu kalimat dapat menimbulkan makna ganda yang berbeda. Oleh karena itu, perlu dibedakan antara bidang semantik dan pragmatik. Karena kalimat yang diucapkan pada situasi dan kondisi yang berbeda akan menimbulkan makna yang berbeda pula.
Share on Google Plus

0 tanggapan: