Sistem Penomoran Kode Pos di Jepang

Pernah dengar cerita tukang pos di Jepang yang sanggup mengantarkan 600 surat ke alamat berbeda dalam waktu 2 jam saja? Jika belum, maka Anda harus tau hal ini. Sistem penomeran bangunan di Jepang sudah tertata sedemikian teraturnya hingga Anda tidak perlu repot mencari alamat suatu kantor ataupun rumah di tengah kompleks bangunan yang sebegitu padatnya. Bandingkan dengan di Indonesia, karena sistem penomoran Alamat yang masih asal-asalan tanpa aturan baku, seorang tukang pos di Indonesia hanya mampu mengantarkan surat atau paket ke 200 alamat berbeda dalam sehari, itupun sudah terhitung minimal 6 hingga 8 jam kerja. Sungguh jauh selisihnya dan begitu banyak waktu yang terbuang di jalan hanya demi mencari alamat demi alamat.
Di Indonesia, kode pos berbentuk 5 digit angka. 2 angka terdepan menunjukkan lokasi kota atau kabupaten. Misal pada kode pos 12110 yang 2 digit pertamanya adalah angka 12 yang artinya lokasi tersebut berada di Jakarta. Selanjutnya 3 digit di belakangnya menunjukkan wilayah kecamatan.
Sedangkan di Jepang sejak tahun 1998 lalau, telah diberlakukan sistem kode pos 7 digit seperti halnya Negara-negaar di Eropa dan Amerika. Penggunaan 7 digit kode pos memungkinkan setiap desa atau kelurahan di Jepang memiliki nomor kode pos yang berbeda. Bahkan instansi dan kantor-kantor besar maupun universitas di Jepang dapat memiliki kode pos sendiri.
Beberapa hal dalam penomoran atau pengalamatan di Jepang masih serupa seperti di Indonesia, misal untuk penamaan suatu menggunakan nama yang mudah diucapkan dan sebisa mungkin masih memiliki ikatan sejarah dengan sejarah masyarakat setempat. Mengenai batas-batasnya,bisanya menggunakan patokan jalan, rel kereta, sungai, gunung, bukit, atau batas-batas lain yang dimungkinkan tidak akan berubah dalam jangka waktu lama. Setiap desa atau kelurahan juga dibagi dalam satuan blok seperti halnya pada area perumahan di Indonesia.
Untuk semakin mempermudah pengalamatan, setiap blok dibagi lagi menjadi satuan kapling yang lebih kecil seukuran 5 hingga 10 meter. Penomoran kapling ini memiliki patokan dimulai dari tanah yang paling atas di sebelah kiri, kemudian memutar searah jarum jam. Sedangkan untuk nomor rumah ditentukan berdasarkan pintu utama rumah tersebut menghadap. Jadi, meski dalam 1 ruas jalan terdapat 5 rumah, namun yang pintunya menghadap ke ruas jalan tersebut hanya 2, maka hanya aka nada nomor 1 dan 2.
Contoh :
Misal ada sebuah rumah di blok 3, bangunan no.4 yang berlokasi di kelurahan/desa “Akane”, di kecamatan “Hachioji”, kota “Tokyo”; maka penulisan alamat yang benar adalah "3-4 Akane Hachioji Tokyo” lalu ditambahkan 7 digit nomor kode pos di belakangnya. Dibaca dari belakang "kota Tokyo, kecamatan Hachioji, kelurahan Akane, blok 3, bangunan nomor 4).

*fnsyc
Share on Google Plus

0 tanggapan: