Gambar dari Pecahan Mata Uang Yen Jepang

Mata uang Negara Jepang adalah Yen (¥) atau yang biasa disebut juga JPY (Japan Yen). Dalam aksara kanji Jepang, Yen dituliskan dengan huruf 円 (en), namun dalam bahasa romaji dibaca “Yen”, bukan en. Hal ini dikarenakan pada akhir jaman keshogunan Tokugawa, aksara katakana エ (e) dibaca "ye". Aksara kanji 円 (en) pada dasarnya mempunyai arti “lingkaran”. Dahulu, orang Jepang seringkali melambangkan uang dengan lingkaran yang dibentuk oleh ibu jari dan telunjuk. Uang logam yang berbentuk bundar juga membuat uang seringkali diidentikkan dengan lingkaran.


Pecahan terkecil dalam mata uang Jepang adalah uang koin senilai 1 yen, sedangkan pecahan terbesarnya adalah uang 10.000 yen yang berbentuk kertas. Berikut deskripsi dari masing-masing pecahan uang kertas Jepang,

• 1000 yen : Di bagian depan akan tampak gambar dari Hideo Noguchi, yaitu seorang peneliti bakteriologis asal Jepang. Di bagian belakang tampak gambar dari gunung Fuji, gunung tertinggi Jepang.
• 2000 yen : Di bagian depan akan tampak gambar pintu gerbang Okinawa yang disebut “Shureimon Gate”, sedang di bagian belakang tampak ilustrasi dari lukisan Genji Monogatari.
• 5000 yen : Di bagian depan tampak gambar dari tokoh novelis wanita Jepang, yakni Ichiyo Higuchi. Di bagian belakang adalah penampakan dari bunga Iris.
• 10000 yen : Tampak depan gambar dari tokoh pendidikan Jepang, Yukichi Fukuzawa. Di bagian belakang ditampilkan penampakan patung Byodoin Phonix yang terdapat di kuil Kyoto.
Ke-4 pecahan uang kertas Jepang juga disisipi oleh blind code, yakni tanda pengenal untuk penyandang tuna netra agar dapat membedakan pecahan uang kertas. Blind code tersebut berbeda-beda untuk tiap pecahannya, yakni tanda garis untuk pecahan uang 1000 yen, tanda 3 bulatan untuk pecahan 2000 yen, tanda 1 bulatan untuk pecahan 5000 yen, dan tanda garis siku-siku untuk pecahan uang 10.000 yen.

Di Jepang, Money Changer hanya menerima penukaran uang kertas, sedangkan uang koin hanya dianggap sebagai recehan sehingga tidak dapat ditukarkan. Meski begitu, fungsi uang receh dirasa sangat penting di Jepang. Ketika membayar tiket kereta, membeli minuman di vending machine, dan berbelanja, Anda akan selalu menemukan nominal yang memerlukan uang koin (kebanyakan karena adanya penambahan pajak pada harga barang). Ketika berbelanja di Jepang, Anda akan selalu mendapatkan kembalian uang dalam jumlah yang pas sampai pada nominal terkecilnya (1 yen). Transaksi pembelian sekecil apapun dengan pembayaran uang pecahan besar wajib dilayani, karena pembeli sangat dihormati dan diposisikan sebagai Raja.

Menyiapkan uang koin untuk membayar ongkos Bus kota mungkin adalah hal yang paling fatal jika sampai terlupakan. Meskipun di setiap bus kota selalu tersedia mesin penukaran uang, namun nominal tertinggi yang bisa ditukarkan adalah pecahan 1000 yen. Di Jepang, sopir bus sama sekali tidak berkewajiban untuk melayani tukar menukar uang selain lewat mesin yang telah disediakan.

*fnsyc

0 tanggapan:

Pulau Honshu (本州), Pulau Terbesar di Jepang

Wilayah daratan Jepang terdiri dari 4 pulau besar, yakni Honshu, Shikoku, Kyushu, dan Hokkaido. Pulau Honshu (本州) yang berarti “pulau utama” merupakan pulau yang terbesar diantara pulau lainnya. Posisi pulau Honshu terletak diantara pulau Hokkaido dan pulau Shikoku, tepatnya di sebelah selatan pulau Hokkaido dan di sebelah utara pulau Shikoku. Selain menjadi pulau terbesar di Jepang, pulau Honshu juga menjadi pulau terbesar ke-7 di dunia dan menjadi pulau terpadat ke-2 didunia setelah pulau Jawa. Pulau Honshu membentang sepanjang 1.300 km dari utara ke selatan dengan lebarnya bervariasi antara 50 hingga 230 kilometer jika dihitung dari timur ke barat. Total luas wilayahnya mencapai 230,5 ribu km². Dengan perhitungan luas ini, Pulau Honshu mengisi 60% dari total luas wilayah Jepang secara keseluruhan.



Relief dataran di Pulau Honshu didominasi oleh pegunungan, terutama gunung berapi dengan puncak tertingginya ada pada Gunung Fuji (setinggi 3.776 meter dpl) dan masih aktif hingga saat ini. Pulau Honshu juga dilalui oleh beberapa sungai, diantaranya ada Sungai Shinano yang merupakan sungai terpanjang di Jepang. Dominasi gunung berapi di Honshu menjadikan pulau ini sangat rentan dengan terjadinya gempa bumi vulkanik. Gempa bumi vulkanik yang tercatat paling parah terjadi adalah pada bulan September tahun 1923 yang telah menyebabkan kerusakan masif di Jepang.

Pulau Honshu memiliki jumlah penduduk sebanyak 103 juta jiwa (berdasarkan perhitungan penduduk pada tahun 2005) yang kebanyakan bermukim di daerah dataran rendah. Seperempat penduduk pulau ini bermukinm di Hamparan Kanto, serta di sekitar Tokyo dan Yokohama. Kota lain yang juga banyak dihuni di Pulau Honshu adalah Hiroshima, Kyoto, Kobe, Nagoya, Osaka, dan Sendai. Pulau Honshu terbagi menjadi 5 daerah yang terdiri dari 34 prefektur. Kelima daerah tersebut adalah Tohoku di bagian utara, Chubu di bagian tengah, Chugoku di bagian selatan, Kanto di bagian timur, dan Kinki di bagian selatan.
Prefektur-prefektur di Pulau Honshu diantaranya adalah,

Daerah
Perfektur
Chubu
Aichi-ken
Fukui-ken
Gifu-ken
Ishikawa-ken
Nagano-ken
Niigata-ken
Toyama-ken
Shizuoka-ken
Yamanashi-ken
Chugoku
Hiroshima-ken
Okayama-ken
Shimane-ken
Tottori-ken
Yamaguchi-ken.
Kanto
Chiba-ken
Gunma-ken
Ibaraki-ken
Kanagawa-ken
Saitama-ken
Tochigi-ken
Tokyo-to
Kinki
Hyogo-ken
Kyoto-fu
Mie-ken
Nara-ken
Osaka-fu
Shiga-ken
Wakayama-ken.
Tohoku
Akita-ken
Aomori-ken
Fukushima-ken
Iwate-ken
Miyagi-ken
Yamagata-ken
Sebagian besar kota-kota besar nan modern di Jepang juga terletak di pulau ini, diantaranya Tokyo, Yokohama, Osaka, Nagoya, Kobe, Kyoto, Akita, Sendai, Fukushima, Niigata, dan Hiroshima. Pusat kebudayaan Jepang modern lebih difokuskan pada ketiga kota, yakni Kyoto, Nara, dan Kamakura (kota asal sejarah pra Samurai Jepang). Hamparan Kanto dan Nob menjadi pemasok beras dan sayuran utama di Jepang, yang selanjutnya diproduksi di Niigata. Sedangkan Yamanashi dan Aomori, adalah daerah penghasil buah-buahan utama di Jepang.

0 tanggapan:

Cerita Rakyat dalam Bahasa Jepang : 'Neko to jūnishi' , Kucing dan 12 Horoskop

Cerita rakyat berjudul “Neko to jūnishi” (猫と十二支) merupakan salah satu dongeng asal Jepang yang sangat terkenal. Dongeng ini berkisah tentang seekor kucing dan ke-12 binatang lainnya yg terpilih menjadi simbol horoskop (shio). Cerita ini mengandung pesan bahwa sebaiknya kita tidak melalaikan hal yang penting karena kita akan menyesalinya.


Berikut mari kita baca bersama isi dari dongengnya,

Bab 1 (第一章)

ある時 、神様 動物たち 呼んで、宴会 開くことにしました。
Aru toki, kamisama ga doubutsu tachi o yonde, enkai o hiraku koto ni shimashita.
Suatu ketika, dewa memutuskan untuk memanggil para hewan dan mengadakan perjamuan makan.
「宴会の日、早く来たもの 順に、十二匹 選んで、一年間ずつ、人間の世界 守らせる ことにしたい。」 と、お触れ 出しました。
Enkai no hi, hayaku kita mono no jun ni, juuni-hiki o erande, ichinenkan zutsu, ningen no sekai o mamoraseru koto ni shitai." to, o-fure o dashimashita.
“Pada hari perjamuan, menurut urutan yg tercepat datang, saya akan memilih 12 ekor, masing-masing 1 tahun, untuk melindungi dunia manusia", kata sang dewa saat memberi pengumuman.
そこで 動物たちは、自分こそ 一番先 行こうと 、宴会の日 待っていました。
Soko de doubutsu-tachi wa, jibun koso ichiban saki ni ikou to, enkai no hi o matte imashita.
Maka itu, para hewan masing-masing berniat untuk menjadi yg tercepat datang,, (mereka) menunggu-nunggu hari perjamuan tiba.
ところが 、猫 宴会の日 を、忘れて しまった のです。
Tokoro ga, neko wa enkai no hi o wasurete shimatta no desu.
Tetapi, kucing lupa tentang hari perjamuan.
「困った なあ。ねずみ 聞いてみよう。」
"Komatta naa. Nezumi ni kiite miyou."
"Waduh gawat nih. Coba tanya tikus ah."
ねずみ 所へ 聞きに 行くと、ねずみ わざと 一日おそい 教えました。
Neko ga nezumi no tokoro e kiki ni iku to, nezumi wa wazato ichinichi osoi hi o oshiemashita.
Begitu kucing pergi ke tempat tikus untuk bertanya, si tikus dengan sengaja memberitahu telat satu hari (hari yang salah).


Bab 2 (第二章)


さて、宴会の日。牛 は、真っ先に 出発しました。
Sate, enkai no hi. Ushii wa, massaki ni shuppatsu shimashita.
Lalu, sampailah pada hari perjamuan. Kerbau tiba paling dulu.
ねずみ 遅れて 大変と、牛の背中に 跳び乗って、門に着くと すぐに 跳び下りて、一番 はやく 、神様 所へ かけつけました。
Nezumi wa okurete wa taihen to, ushi no senaka ni tobinotte, mon ni tsuku to sugu ni tobiorite, ichiban hayaku, kamisama no tokoro e kaketsukemashita.
Tikus yang takut terlambat, menunggangi punggung sapi dan segera melompat turun begitu sampai di pintu gerbang, (Ia) menjadi yang paling awal, ia berlari ke tempat dewa.
神様 着いた順に、ねずみ 、牛、とら、、竜、へび、馬、羊、さる、鶏、犬、いのしし 十二匹に、それぞれ 一年間ずつ 人間の世界を守らせる ことにしました。
Kamisama wa tsuita jun ni, nezumi, ushi, tora, usagi, tatsu, hebi, uma, yagi, saru, niwatori, inu, inoshishi no juunihiki ni, sorezore ichinen zutsu ningen no sekai o mamoraseru koto ni shimashita.
Sang dewa memilih 12 hewan untuk melindungi dunia manusia sesuai dengan urutan kedatangannya yakni, tikus, kerbau, harimau, kelinci, naga, ular, kuda, kambing, monyet, ayam, anjing, dan babi hutan.
そんなこと とは 知らない 猫は、次の日、神様の所へ かけつけました。
Sonna koto to wa shiranai neko wa, tsugi no hi, kamisama no tokoro e kaketsukemashita.
Kucing yang tidak mengetahui hal ini, pkeesokan harinya pergi berlari ke tempat dewa.
ところが、宴会など ありません 不思議に 思って 門番に聞くと、
Tokoro ga, enkai nado arimasen. Fushigi ni omotte monban ni kiku to,
Tetapi, (Ia melihat) tidak ada perjamuan atau apa pun. Merasa aneh, ia bertanya kepada penjaga gerbang.
「宴会だって? それ きのう だよ。」 と、笑ってしまいました。
"Enkai datte? Sore wa kinou da yo." to, waratte shimaimashita.
"Perjamuan ya? Itu kan kemarin.", kata penjaga gerbang sambil menertawainya.
そんな わけで 、十二支に 入れてもらえなかった 猫は、ねずみ 恨んで 、今でも ねずみを見ると 敵を打とうと 、追いかけ回しているのだと 言うことです。
Sonna wake de, juunishi ni irete moraenakatta neko wa, nezumi o urande, ima demo nezumi o miru to kataki o utou to, oikake mawashite iru no da to iu koto desu.
Itulah sebabnya, kucing yang tidak bisa dimasukkan ke dalam 12 horoskop, (dan kucing menjadi) dendam pada tikus. Sampai sekarang pun, begitu melihat tikus, (kucing) langsung berusaha menyerangnya dan mengejar kesana kemari.
 

0 tanggapan:

Contoh Peribahasa 'Kotowaza' dalam Bahasa Jepang

Kata-kata Peribahasa dalam bahasa Jepang disebut “kotowaza” (ことわざ). Secara arti, “kotowaza” (ことわざ) tidak berbeda dengan Peribahasa yakni serangkaian kata-kata bijak atau pepatah kuno yang mengandung makna tertentu. Kebanyakan kotowaza kuno yang beredar di Jepang berasal dari Cina, namun beberapa ada juga yang berasal dari sejarah Jepang sendiri atau dari Negara lainnya yang telah diadaptasi pada penggunaan yang lebih modern.


Dalam bahasa Jepang, “kotowaza” (ことわざ) dibagi menjadi 3 bentuk yakni “iinarawahsi” (言い習わし) yang berarti “kata-kata bijak”, “kan'yōku” (惯用 句) yang berarti “Frase idiomatik”, dan yang terakhir “yojijukugo” (四字 熟语) yang memiliki arti “Idiom 4 karakter”.

Berikut beberapa “kotowaza” (ことわざ) yang kerap dipergunakan di Jepang,

“Undei No Sa” (う ん で い の さ), artinya "pemisahan antara awan dan lumpur".
Makna : Sebuah perbedaan besar antara dua hal.

“ken'en no naka” (け ん え ん の な か), artinya "hubungan anjing dan monyet".
Makna : Hubungan saling membenci dari musuh alami.

“naseba naru” (な せ ば な る), arti "jika Anda melakukannya, maka hal itu akan terjadi".
Makna : Anda dapat melakukan apapun jika Anda mau mencoba.

“kamo ga negi o shotte kuru” (か も が ね ぎ を し ょ っ て く る), artinya “bebek datang membawa daun bawang pada punggungnya"”.
Makna : Sesuatu terjadi dengan sangat mudah (keberuntungan)
Di Jepang, sup bebek dibuat dengan menggunakan daun bawang, sehingga seolah-olah bebek datang dengan membawa daun bawang hanya meminta Anda untuk memakannya.

“shizumu se Areba ukabu se ari” (し ず む せ あ れ ば う か ぶ せ あ り), artinya "jika saat ini tenggelam, nantinya akan naik (lagi)".
Makna : Hidup ini berjalan pasang surut.

“chousho wa tansho” (ち ょ う し ょ は た ん し ょ), artinya "poin terkuat kami adalah titik lemah kami".
Makna : Terlalu mengandalkan kekuatan dapat mengarahkan pada kecerobohan.

“okite hanjou, Nete Ichijou” (お き て は ん じ ょ う, ね て い ち じ ょ う), Artinya “(manusia hanya membutuhkan) setengah tikar tatami saat terjaga, satu tikar tatami saat tertidur”.
Makna : Anda tidak perlu menjadi kaya untuk mendapat kepuasan hidup.

“neko o ou yori sara o hike“ (ね こ を お う よ り さ ら を ひ け), artinya “daripada mengejar kucing, (lebih baik) mengambil piring”.
Makna : Selesaikan masalah darii akarnya.

“Seinen kasanete kitarazu” (せ い ね ん か さ ね て き た ら ず), Artinya "Awal hidup tidak datang dua kali".
Makna : Jangan sis-siakan masa muda, karena manusia hanya akan merasakan masa muda sekali dalam hidupnya.

0 tanggapan:

Macam - Macam Ujian untuk memperoleh Sertifikat Bahasa Jepang : JPLT, EJU, JTEST

Jika kita ingin menuntut ilmu di Negara lain, maka kita diharuskan untuk menguasai bahasa dari Negara tersebut. Sebagai bukti, kita harus memiliki semacam sertifikat hasil penilaian tes kemampuan bahasa yang diakui oleh Negara tersebut. Jika dalam bahasa Inggris kita mengenal istilah tes TOEFL, TOEIC, dan IELTS, maka di Jepang ada tes yang namanya JLPT, EJU, dan JTEST. Di Jepang, kemampuan bahasa Jepang sangat mutlak karena sebagian besar program pendidikan internasional menggunakan bahasa Jepang sebagai bahasa pengantarnya, selain itu orang Jepang sendiri sangat jarang bahkan nyaris tidak pernah menggunakan bahasa Inggris dalam komunikasi sehari-hari.


Berikut penjelasan dari beberapa tes sertifikasi bahasa Jepang,

JLPT (Japanese Language Proficiency Test)

JLPT merupakan suatu bentuk uji kompetensi berbahasa Jepang yang diperuntukkan bagi semua orang yang tidak berasal dari Jepang, atau lebih ringkasnya yang berasal dari luar Jepang. Di Jepang sendiri, tes ini dinamakan nihongo nouryoku shiken (日本語能力試験). Tes ini disponsori oleh Japan Education Exchanges and Services serta mulai dilaksanakan sejak tahun 1984.
Tes JLPT ini diadakan 2 kali dalam setahun yaitu pada bulan Juli dan Desember dengan materi yang diujikan mencakup test vocabulary, Kanji, Grammar, Reading, dan Listening. Setiap tahunnya, tes ini diikuti oleh lebih dari 750.000 peserta dari seluruh dunia. Hasil tes JLPT dibagi menjadi 5 kategori level yakni N5, N4, N3, N2, dan N1 dengan tingkatan terendah adalah N5 hingga yang tertinggi N1. Hasil tes ini nantinya digunakan sebagai persyaratan beasiswa studi ke Jepang, persyaratan masuk universitas di Jepang dengan biaya sendiri, atau prasyarat untuk melamar kerja di perusahaan Jepang. Sebagai contoh, untuk masuk ke sebuah universitas swasta dengan program pendidikan sarjana dibutuhkan sertifikat N2.

EJU (The Examination for Japanese University Admission for International Students)

EJU di Jepang dinamakan ryuugaku shiken (留学試験) yang diselenggarakan oleh Japan Student Services Organization (JASSO). Secara teknis, tes ini digunakan untuk keperluan berbahasa Jepang yang lebih spesifik. Misalnya jika ada seseorang yang membutuhkan sertifikat kemampuan bahasa Jepang dalam bidang sains, maka Ia harus mengikuti 2 tes yakni tes sains dan tes bahasa Jepang. Sama seperti JLPT, tes ini juga diadakan 2 kali setahun tepatnya pada bulan Juni dan November. Di Indonesia, tes ini diadakan di 2 lokasi yaitu Jakarta dan Surabaya.

JTEST (Test of Practical Japanese)

Dalam bahasa Jepang, tes ini disebut dengan nama Jitsuyou Nihongo Kentei (実用日本語検定). Hasil tes JTEST nantinya diklasifikasikan menjadi 6 kategori mulai dari A hingga F, selain itu ada juga level Bisnis bagi peserta yang memerlukan sertifikat kemampuan bahasa Jepang dalam bidang bisnis.
Bila dibadingkan dengan JLPT dan EJU, tes ini terhitung yang paling baru karena baru mulai dilaksanakan pada tahun 1991. Meski begitu, tes ini sangat digemari para pemburu sertifikat karena dilaksanakan lebih sering, yaitu 6 kali dalam setahun (pada setiab bulan ganjil). Selain itu, biaya JTEST disebut-sebut lebih terjangkau dibandingkan JLPT dan EJU. Sayangnya tes ini belum pernah diselenggarakan di Indonesia.

0 tanggapan:

Nama Populer Untuk Anak perempuan dalam Bahasa Jepang

Sebelum tahun 1980an, sebagian besar nama perempuan di Jepang didominasi oleh akhiran -ko, -e, dan –yo. Dua dekade selanjutnya yaitu menjelang tahun 2000an, tren pemberian nama untuk anak perempuan di Jepang bergeser menjadi berakhiran -ka, -na, dan –mi. Hingga akhirnya memasuk tahun 2000an pergeseran tren pemberian nama anak bergeser lagi pada nama yang mengandung kata “Hana”, “Noa”, dan “Mei”. Nama-nama seperti “Mei”, “Rio”, “Airi” dan “Yua” menjadi sangat populer di Jepang baru-baru ini, namun tidak satupun mengandung makna yang jelas. Selain nama-nama tersebut ada juga nama-nama populer yang mengandung arti tradisional seperti “Hana” yang berarti "bunga," “Hina” yang berarti "boneka" atau "gadis kecil yang imut", “Aoi” yang berarti "biru" atau "nama dari sejenis tumbuhan", “Sakura” yang berarti “bunga sakura” (cherry blossom), dan “Koharu” yang berarti "musim semi".


Beberapa nama anak perempuan yang populer di jepang biasanya diawali dengan konsonan Ch, F, H, K, S, Sh, dan T. Nama yang berawalan dengan huruf konsonan kuat seperti B, D, G, J, atau Z jarang dipergunakan di Jepang. Rata-rata kata pertama dalam nama anak perempuan di jepang terdiri atas 2 atau 3 suku kata. Misalnya berasal dari kata “Fuji” maka akan mendapat imbuhan –ko menjadi “Fujiko”. Sedangkan untuk nama yang sudah memiliki 3 suku kata seperti “Sakura” tidak akan diberikan imbuhan lagi. Imbuhan-imbuhan yang sering ditambahkan pada nama anak perempuan antara lain adalah, -e, -ka, -ki, -ko, -mi, -na, -no, -o, dan –yo.

Berikut ini adalah daftar nama-nama anak perempuan yang paling populer baru-baru ini di Jepang ,
1. Mei (めい)
2. Yui (ゆい)
3. Rin (りん)
4. Koharu (こはる)
5. Rio (りお)
6. Airi (あいり)
7. Hina (ひな)
8. Aoi (あおい)
9. Yua (ゆあ)
10. Hana (はな)
11. Akari (あかり)
12. Sakura (さくら)
13. Saki (さき)
14. Mio (みお)
15. Yuna (ゆな)
16. Haruka (はるか)
17. Miyu (みゆ)
18. Hinata (ひなた)
19. Riko (りこ)
20. Kanon (かのん)
21. Kanna (かんな)
22. Sana (さな)
23. Sara (さら)
24. Misaki (みさき)
25. Noa (のあ)

0 tanggapan:

Beragam Ucapan 'Selamat Tinggal' dan 'Sampai Jumpa' dalam Bahasa Jepang

Salam perpisahan atau yang biasa disebut dengan “Wakare No Aisatsu” (わかれ の あいさつ) dalam bahasa Jepang merupakan cara orang jepang untuk mengekspresikan ungkapan salam menjelang perpisahan. Beberapa kata yang mungkin sering kita kenal adalah “Sayounara” (さようなら) yang berarti selamat tinggal. Kata ini diucapkan ketika kedua pihak akan berpisah untuk waktu yang lama dan tidak tahu kapan akan bertemu kembali.


Ada banyak cara mengucapkan kalimat perpisahan di Jepang yang disesuaikan dengan situasi dan kondisinya, misalnya saat akan berangkat sekolah, saat akan berpisah sementara, atau untuk waktu yang lama. Ketika kita akan pergi meninggalkan rumah misalnya hendak pergi ke sekolah maka frasa yang diucapkan adalah “Ittekimasu” (いってきます) yang memiliki arti “selamat tinggal” atau “Saya pergi”, frasa yang bermakna sama namun terkesan lebih sopan adalah “Ittemairimasu” (いってまいります). Biasanya anggota keluarga yang ditinggalkan di rumah akan mengucapkan “Itterashai” (いってらしゃい) yang artinya “selamat jalan”.

Situasi lain adalah kita sedang berkunjung ke rumah seseorang dan hendak berpamitan, kalimat yang bisa digunakan adalah “Shitsurei Shimasu” (しつれい します) atau “Ojama Shimashita” (おじゃま しました), keduanya memiliki arti yang sama yakni “Saya mohon pamit”. Jika Anda datang tidak sendirian maka saat berpamitan dapat mengucapkan “Oitoma Itashimasu” (おいとま いたします) yang berarti “kami mohon pamit”.

Frasa lain yang juga dapat digunakan menjelang perpisahan adalah yang memiliki arti “Sampai Jumpa lagi”. Di Jepang mengucapkan “sampai jumpa lagi” mengindikasikan bahwa kedua pihak tersebut sudah tau kapan akan bertemu lagi. Biasanya frasa ini diucapkan pada teman sekolah, rekan kerja, atau pada orang-orang yang rutin bertemu. Orang jepang biasa mengucapkan “Dewa Nochihodo” (でわ のちほど) yang berarti “Sampai jumpa lagi”, frasa ini diucapkan ketika diperkirakan akan bertemu lagi di hari itu juga.

Frasa lain digunakan berdasarkan lamanya perpisahan kedua pihak, misal orang Jepang mengatakan “Mata Ashita Aimashou” (また あした あいましょう) yang artinya “sampai jumpa besok”, “Mata Raishu Aimashou” (また らいしゅ あいましょう) bermakna “sampai jumpa minggu depan”, “Mata Raigetsu Aimashou” (また らいげつ あいましょう) bermakna “sampai jumpa minggu depan”, dan “Mata Rainen Aimashou” (また らいねん あいましょう) bermakna “sampai jumpa tahun depan”. Jika waktu pertemuan selanjutnya belum diketahui dengan pasti, maka orang jepang biasanya mengucapkan “Mata Itsuka Aimashou” (また いつか あいましょう) yang artinya sampai jumpa di lain waktu.

0 tanggapan: