Adat Istiadat, Kebudayaan, dan Hal Tabu di Jepang

Berbicara tentang Jepang pasti akan membuat kita terpana akan keunikan yang dimiliki oleh Negara ini, tak terkecuali dengan kebudayaan dan adat-istiadatnya. Sepanjang sejarah Jepang, berbagai kebudayaan masuk seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi, namun Jepang tetap tidak meninggalkan kebudayaan asli mereka.

Di Jepang bukan hal sulit untuk menemukan para remaja putri yang mempelajari upacara minum teh “chadou” dan belajar budaya merangkai bunga “kadou” selepas menonton bioskop. Kuil-kuil kuno tegak berdiri berdampingan dengan padatnya gedung-gedung pencakar langit di Jepang. Inilah gambaran Jepang yang berhasil menjaga norma tradisionalnya seiring dengan kemajuan masa.

Berikut adalah beberapa seni tradisional dan adat istiadat yang tetap dipegang teguh oleh masyarakat hingga kini,

1. Upacara merangkai bunga (ikebana)
Upacara merangkai bunga ini merupakan seni dasar di jepang yang telah mengalami evolusi selama 7 abad lamanya. Ikebana dulunya berawal dari tradisi mempersembahkan bunga ke kuil Buddha di Jepang.

2. Bunga Sakura
Jepang sangat identik dengan bunga sakura atau yang bisa disebut dengan cherry blossom. Masyarakat Jepang sendiri sangat bangga dengan keberadaan bunga ini. Hampir setiap kali musim berbunga, masyarakat Jepang menyempatkan diri untuk hadir meramaikan festival cherry blossom setiap tahunnya. Bunga sakura bahkan telah menjadi simbol nasional di Jepang, terbukti dengan seringnya para petinggi Jepang menggunakan lambang sakura sebagai label pin pada jas mereka. Motif bunga Sakura juga seringkali muncul pada berbagai kerajinan khas Jepang, seperti yukata, kimono, kipas, dan masih banyak lagi.

3. Ojigi dan Berjabat Tangan
Ketika bertemu dengan orang asing yang belum dikenal, orang Jepang biasanya lebih lebih menyukai jabatan tangan ringan daripada berpelukan ala orang eropa. Jika bertemu dengan rekannya, mereka lebih suka membungkukkan badan (ojigi) sebagai pertanda hormat.

4. Adat menggunakan sumpit dan duduk saat makan
Adat istiadat di Jepang mengharuskan seseorang untuk duduk sembari menggunakan sumpit saat makan. Penggunaan sumpit sebenarnya berasal dari China dan mulai digunakan di jepang pada masa Nara (tahun 710-794 M).

5. Festival Seijin shiki
Di Jepang, sorang remaja baru dikatakan berubah menjadi orang dewasa setelah mengikuti upacara orang dewasa yang dinamakan Sheijin Shiki (成人式). Upacara ini diikuti oleh seluruh remaja yang menginjak usia 20 tahun pada tahun itu. Para remaja wanita biasanya menggunakan kimono paling indah yang mereka miliki, sedangkan untuk pria biasanya hanya menggunakan setelan jas.

6. Pantangan dan hal tabu di jepang
Masyarakat Jepang dikenal memiliki banyak pantangan untuk dilakukan karena dianggap tabu. Misalnya seseorang sebaiknya tidak menggunakan pakaian berwarna hitam atau ungu pada saat menghadiri acara bernuansa suka cita, karena warna tersebut dianggap melambangkan kesedihan, begitu juga dengan warna hijau. Warna putih atau kuning lebih disarankan karena melambangkan keceriaan. 
Penggunaan angka “4” dan “9” juga dianggap tabu di jepang, itulah mengapa Anda terkadang tidak akan menemukan lantai 5 langsung setelah lantai 3 di sebuah bangunan bertingkat. Hal lain yang juga dianggap tabu adalah menggunting kuku, mencuci, dan menjemur pakaian di malam hari. Tidur menghadap ke utara juga tidak disarankan karena mirip dengan orang meninggal (orang yang meninggal di Jepang biasanya kepalanya dihadapkan ke utara). Memegang rambut atau pakaian saat makan juga tidak diperbolehkan karena dianggap kotor dan tidak sopan.
Share on Google Plus

0 tanggapan: