Suku Ainu, penduduk Asli Jepang yang sempat Dikucilkan

Suku Ainu (アイヌ) atau yang juga disebut suku Ezo dalam teks-teks sejarah Jepang merupakan sekelompok etnis pribumi yang mendiami wilayah Kepulauan Kuril, Hokkaido, dan sebagian besar Sakhalin. Meski secara asal-usul suku Ainu belum sepenuhnya diketahui, namun suku ini seringkali dianggap sebagai Jōmon-jin, yakni penduduk asli yang menempati Jepang sejak periode Jomon. Legenda Ainu (Yukar Upopo) bahkan menyebutkan bahwa mereka menempati dataran Jepang sejak 100.000 tahun sebelum akhirnya suku Matahari (suku yang kini mendominasi Jepang).



Jika ditelisik, suku Ainu sebenarnya memiliki beberapa kesamaan dengan penduduk asli Amerika (suku Indian). Dalam bersosialisasi, mereka cenderung menghindar atau menolak untuk berbaur dengan penduduk Jepang yang lain. Mereka lebih memilih untuk menetap di dekat tanah asli mereka, yaitu di dataran Jepang bagian Utara. Secara fisik, suku Ainu juga lebih mirip dengan orang Tibet asli ketimbang orang Jepang (Yamato), misalnya cenderung memiliki lebih banyak rambut pada permukaan tubuhnya dibandingkan kebanyakan orang Asia lainnya. Kepercayaan Orang Ainu bersifat animisme. Dahulu, masyarakat suku Ainu hanya menggantungkan kebutuhan sehari-harinya pada kegiatan bertani, berburu, menangkap ikan, dan mengumpulkan hasil bumi. Namun pada saat ini, masyarakat Ainu banyak yang menggantungkan diri dengan membuat kerajinan dan berdagang dengan turis. Para pria dari suku ini cenderung memiliki rambut panjang, sedangkan si wanitanya memiliki mulut bertato. Kaum wanita dalam ras Ainu mulai menato mulutnya pada usia 10 tahun hingga 12 tahun, setelah itu mereka akan siap menikan pada usia 14 tahun.

Banyak peneliti menduga bahwa suku Ainu masih memiliki hubungan keturunan dengan ras Kaukasus. Uji genetik suku Ainu membuktikan bahwa mereka masuk dalam golongan haplo-Y D, golongan yang lazim ditemukan di dataran Tibet dan Kepulauan Andaman. Pada beberapa pria di suku Ainu juga didapati ciri genetik grup haplo C3 yang umumnya ditemukan pada penduduk pribumi di Rusia Timur dan Mongolia.

Hingga kini, diperkirakan ada sekitar lebih dari 150.000 keturunan suku Ainu yang hidup di Jepang. Jumlah ini tidak dapat diketahui dengan tepat Karena rata-rata penduduk suku Ainu dan keturunannya lebih suka untuk menyembunyikan identitasnya. Penindasan dan diskriminasi rasial pada suku Ainu di masa lalu hingga saat ini diduga menjadi penyebabnya. Sejak lama, suku Ainu dipaksa untuk berasimilasi dengan orang jepang (Baca : suku Yamato). Bahkan Pemerintah Jepang pada tahun 1899 sempat menyatakan bahwa suku Ainu adalah “bekas Pribumi”. Meskipun akhirnya pada tahun 2008 parlemen Jepang mengakui keberadaan suku Ainu sebagai "Suku pribumi dengan bahasa, kepercayaan, dan kebudayaan yang berbeda", serta membatalkan undang-undang sebelumnya.
Share on Google Plus

0 tanggapan: