Mengenal Jenis-jenis Kimono, Busana Tradisional Jepang

Mendengar istilah Kimono, pasti sudah tak asing lagi di telinga kita. Busana tradisional Jepang ini pamornya sudah mendunia dan seringkali kita lihat penggunaannya di berbagai acara ala Jepang di Indonesia. Kata Kimono sendiri berasal dari 2 kata, yakni “ki” (着) yang diambil dari kata “kiru” (着る) yang memiliki arti “memakai” dan kata “mono” (物) yang digunakan untuk menyebut "barang" dalam bahasa Jepang. Kimono keseluruhan terdiri dari beberapa jenis dan masing-masing digunakan pada situasi yang berbeda. Pada saat ini, Kimono hanya digunakan pada acara atau kesempatan tertentu, karena kimono sudah tidak lagi digunakan sebagai pakaian sehari-hari sejak tahun 1960-an.


Berikut adalah macam-macam jenis kimono yang dahulu kerap kali digunakan di Jepang,

Furisode (振袖)
Jenis kimono ini digunakan oleh wanita muda yang belum meikah untuk acara formal. Ciri khasnya adalah bukaan pada ketiak membentuk kantong tidak berjahit (tamato) yang memanjang ke bawah hingga mata kaki. Ciri khas lain dari Furisode adalah warna-warna pastelnya yang cerah dengan motif bunga, tanaman, hewan, atau keindahan musim di Jepang. Furisode juga digunakan sebagai baju pengantin wanita, dengan dipadukan bersama sejenis mantel yang disebut “uchikake”. Baju pengantin ini kemudian diberi sebutan “hanayome ishō”.

Tamesode (貯め袖)
Jika Furisode digunakan untuk wanita yang belum menikah, maka wanita yang telah menikah menggunakan Tamesode sebagai pakaian formalnya. Tamesode dibedakan menjadi 2 berdasarkan warna kainnya, yaitu Kurotamesode (hitam) dan Irotamesode (berwarna). Irotamasode cenderung lebih sering digunakan pada acara-acara resmi, karena Tamesode biasanya hanya digunakan pada acara formal dengan tema berduka.

Homongi (訪問着)
Jenis kimono formal selanjutnya adalah Homongi, yang bisa dikenakan baik oleh wanita lajang atau yang sudah menikah. Tingkat formalitasnya sedikit di bawah Tamesode, dan biasanya digunakan untuk menghadiri acara upacara minum the, merayakan tahun baru, dan pesta-pesta. Homongi memiliki ciri khas yang disebut “eba” (絵羽), yakni dimana corak kain yang saling tepat bertemu di bagian jahitan kimono.

Tsukesage (着け下げ)
Merupakan jenis kimono semiformal yang tingkatannya di bawah homongi. Tsukesage dapat digunakan baik oleh wanita yang sudah menikah ataupun belum.

Komon (顧問)
Komon adalah jenis kimono santai yang diperuntukan bagi wanita yang sudah atau belum menikah. Ciri khas dari kimono jenis ini adalah motif yang sederhana, seperti bunga-bunga berukuran kecil-kecil yang berulang. Komon biasnaya dikenakan saat menghadiri makan malam, menonton pertunjukan, atau pesta reuni dengan teman-teman.

Tsumugi (紬)
Komon biasa digunakan sehari-hari di rumah oleh wanita yang sudah atau belum menikah. Jenis kimono ini juga boleh digunakan untuk keluar rumah, seperti untuk berjala-jalan atau berbelanja. Jenis kimono ini dulunya digunakan oleh para pekerja di ladang.

*fnsyc
Share on Google Plus

0 tanggapan: