Fakta Menarik Tentang Bahasa Jepang

Bahasa Jepang dianggap terlalu sulit untuk dipelajari karena penulisan dan struktur katanya berkebalikan dengan bahasa masing-masing. Hanya grammar yang muncul terlebih dahulu untuk masing-masing bahasa.

Bahasa Jepang memakai partikel untuk mengidentifikasi fungsi grammar, dan partikel-partikel tersebut bisa ditempatkan langsung di balik kata-kata untuk menunjukkan masing-masing fungsinya. Sehingga dalam kalimat “Saya membaca buku di tempat tidur” dan “Mereka membeli pakaian di toko”, kata-kata “Aku” dan “Mereka” mendapatkan partikel yang sama (subjek atau penanda topik), kata “buku” dan “pakaian” juga mendapatkan partikel (penanda objek) yang sama.
Dalam susunan kalimat Bahasa Jepang akan menjadi “Saya (subjek) tidur dalam buku (objek) membaca” dan “Mereka (subjek) toko pakaian (objek) membeli”.
Namun yang menarik tentang perbedaan Bahasa Inggris dan Jepang adalah saat menunjukkan hubungan lawan kata (hitam dan putih, di sini dan di sana, utara dan selatan, dll), susunan Jepang dan Inggris pun berlawanan (putih dan hitam, di sana dan di sini, selatan dan utara, dll). Dalam kalimat sebelumnya, Anda dapat memikirkan preposisi ‘di’ sebagai partikel tempat, membuat ‘di tempat tidur’ menjadi ‘tidur dalam’ dan ‘di toko’ menjadi ‘toko di’. Dengan kata lain, preposisi berubah jadi post-posisi dalam Bahasa Jepang.
Sebenarnya, tata Bahasa Jepang tidak terlalu sulit untuk dipelajari. Anda hanya harus mengingat bahwa subjek berada di posisi awal, kata kerja ada di bagian akhir, dan segala hal selain itu ada di antaranya.
Hal menarik kedua tentang Jepang adalah bahwa semua bahasa cenderung mengadaptasi kata-kata dari bahasa lain saat belum ada kata baru yang dapat menjelaskan kata tersebut. Misalnya saja orang dengan Bahasa Inggris yang tetap memakai kata ‘sushi’, ‘karaoke’, ‘tsunami’, dll agar tidak perlu menjelaskan lebih panjang. Jepang tidak ada pengecualian untuk aturan bahasa universal, namun Jepang cenderung untuk menerima kata-kata asing walaupun kata-kata Jepang sudah umum digunakan.
Hal menarik ketiga tentang Bahasa Jepang, adalah daripada mengembangkan gaya menulis sendiri, Bahasa Jepang memakai banyak huruf China (Hanzi) sejak sekitar 14 atau 15 abad silam. Hanzi kebanyakan memiliki arti dasar dan tunggal seperti ‘pohon’ atau ‘rumah’, namun kadang lebih dari satu pengucapan. (Misalnya Mandarin modern, Kanton, dll)
Masalahnya, huruf-huruf Cina tidak cocok dengan Bahasa Jepang. Namun bahasa-bahasa tersebut mengalami perubahan seiring berjalannya waktu. Pengucapannya pun disesuaikan dengan lidah orang Jepang.
Selain itu juga tergantung dari mana Bahasa Jepang meminjamnya, apakah dari utara, tengah, atau Cina bagian selatan. Pengucapannya kadang bermacam-macam meskipun polanya sama. Misalnya, huruf kanji (yang diambil dari huruf hanzi Mandarin ‘xing’) sekarang dibaca ‘ko’, ‘gyo’, atau ‘an’ di Bahasa Jepang modern.
Daripada menimbulkan kebingungan, Bahasa Jepang pun menulis kanji dan menciptakan cara pengucapan asli sesuai Bahasa Jepang. Kata kerja Jepang untuk pergi adalah ‘iku’ dan hari ini dapat ditulis dengan satu huruf kanji dan satu kana seperti ini: 行く
Tidak seperti China, ada kebutuhan untuk menambahkan tenses (bentuk lampau) di Jepang. Sehingga kanji berarti pada dasarnya tidak ada dengan sendirinya dalam Bahasa Jepang modern, tetapi jika Anda menambahkan beberapa kana (berasal dari kanji umum) maka akan berarti ‘pergi’ 行く, “jangan pergi” 行かない, ‘pergi (went)’ 行った, ‘tidak pergi’ 行かなかった, dan sebagainya. Hasilnya sangat fungsional dan kebanyakan orang dewasa berpikir bahwa kanji membuat Bahasa Jepang lebih mudah dibaca.
Share on Google Plus

0 tanggapan: