Apakah Bahasa Jepang Menggunakan Banyak Onomatopoeias?

Ternyata Bahasa Jepang adalah bahasa yang menggunakan banyak onomatopoeias. Dalam Bahasa Inggris, onomatopoeias merupakan representasi fonetik suara sebenarnya seperti ‘hiss’ (mendesis) dan ‘cuckoo’.

Sementara itu, menurut beberapa peneliti Jepang mempunyai lebih dari 4.800 onomatopoeias atau 5 kali lebih banyak dari bahasa lain. Hal ini disebabkan karena Jepang sangat kurang dalam jumlah suku kata atau kelompok suara. Hanya ada 112 jika digabungkan dengan 50 huruf dasar mulai a, i, u, e, o, konsonan bersuara seperti ga, gi, gu, ge, go, dan sebagainya.
Untuk mengatasi kekurangan suku kata tersebut, Jepang memiliki banyak dua suku kata onomatopoeias berulang seperti ‘ira-ira’ dan ‘muka-muka’ yang tidak bisa diungkapkan dengan karakter China.
Berikut ini beberapa onomatopoeias yang cukup berguna untuk menggambarkan sesuatu secara lebih singkat dibandingkan saat harus menjelaskannya dengan Bahasa Inggris.
Hoka-hoka ( )
Menggambarkan uap hangat dari makanan panas, biasanya semangkuk nasi putih yang lengket. Uniknya, menambahkan hoka-hoka untuk nama berbagai hidangan hangat seketika akan membuatnya tampak jauh lebih lezat. Hoka-hoka juga dapat menggambarkan benda hangat yang tidak dimakan seperti tubuh Anda yang kepanasan setelah olahraga, atau sebagainya.
Shaki-shaki ( )
Menggambarkan tekstur berair dan renyah dari makanan seperti selada atau mentimun. Kata ini juga bisa menggambarkan seseorang yang bekerja secara cepat atau cekatan.
Goro-goro ( )
Selain mewakili suara gemuruh guntur, ‘goro-goro’ juga menggambarkan aksi berbaring dan berguling-guling karena bosan atau malas melakukan sesuatu. Walaupun goro-goro menggambarkan berguling-guling, Anda tak harus berguling-guling di lantai saat menggunakan kata ini.
Zaku-Zaku ( )
Menggambarkan derak suara saat berjalan di atas kerikil, kotoran, atau salju. Hal ini juga kerap dipakai untuk menggambarkan suara yang dibuat saat memotong produk ke dalam potongan besar. Selain itu zaku-zaku juga bisa menggambarkan denting suara saat uang koin saling bertumbukan.
Shi---n ( )
Menggambarkan ‘suara’ dari sebuah keheningan. Hal ini biasanya dipakai menggambarkan situasi saat penonton diam usai mendengar sesuatu yang serius atau menyentuh. Banyak juga yang mengatakannya untuk memecah keheningan.
Terkait penggunaannya, onomatopoeia bisa dipakai secara tertulis maupun lisan. Onomatopoeia bersifat tidak resmi karena Anda dapat memakainya saat berbicara dengan penghormatan terhadap seseorang (keigo) tanpa menyinggung perasaan mereka sama sekali.
Share on Google Plus

0 tanggapan: