Eksistensi Aksara Jepang di Zaman Modern

Hiragana merupakan bentuk yang “corrupt” dari aksara Kanji, sejak Jepang tidak memiliki nada seperti di China. Dulu, ada beberapa aksara Kanji untuk satu suku kata. Jadi, ada beberapa Hiragana untuk mewakili satu suku kata tunggal. Suatu kali, Jepang memiliki 100 hingga 200 aksara Hiragana, sebelum menuju era yang lebih modern.

Tetapi, pada tahun 1900-an, ada revisi aturan di sekolah dasar Negeri Sakura dan hanya satu Hiragana yang dikaitkan dengan satu suku kata. Sejak saat itu, aksara Hiragana pun disederhanakan dan saat ini, Jepang hanya memiliki 46 Hiragana. Sementara, model usang dari Hiragana yang pernah digunakan disebut dengan Hentaigana.
Sementara itu, penyederhanaan aksara Kanji dilakukan Jepang tepat setelah Perang Dunia II, seperti menggunakan , bukan . Aksara Hanzi di China juga disederhanakan di tahun 1950-an. Mereka disebut dengan jiǎnhuàzì. Aksara-aksara ini jauh lebih sederhana dari aksara Kanji Jepang. Misalnya, telah menjadi .
Ada juga beberapa orang yang mencoba untuk meninggalkan Kanji karena kompleksitasnya, seperti Hisoka Maejima atau Yukichi Fukuzawa. Sebuah gerakan yang bertujuan untuk membakukan syllabaries Jepang untuk alfabet, Hiragana, Katakana, atau salah satunya, diciptakan. Pada tahun 1923, sebuah komite mengumumkan 1962 aksara Kanji standar untuk penggunaan umum. Perusahaan penerbitan surat kabar utama bereaksi terhadap hal ini dan merencanakan untuk mengurangi dua pertiga dari aksara 6000 Kanji yang telah digunakan.
Tepat setelah Perang Pasifik, GHQ mencoba untuk memperkenalkan abjad Inggris sebagai satu-satunya huruf standar untuk mewakili Jepang. Mereka percaya bahwa kompleksitas Kanji dibuat untuk mencegah pertumbuhan tingkat melek huruf dan menunda demokratisasi. Tetapi, survei menunjukkan bahwa tingkat buta huruf di Jepang hanya 2,1 persen dan akhirnya rencana itu dihentikan.
Sebenarnya, meninggalkan Kanji, Hiragana, dan Katakana, lalu memperkenalkan alfabet adalah hal yang tidak praktis. Pasalnya, ada terlalu banyak homofon dalam bahasa Jepang, terutama dalam kata-kata yang terbentuk dari aksara Kanji, karena fonem yang buruk dan itu akan menyebabkan kebingungan sosial. Ini dapat dilakukan dengan menggunakan kata-kata asal Jepang (yamato kotoba), bukan kata-kata pinjaman dari China, meski biasanya akan membuat kata bertambah panjang. Misalnya, 天皇 (kaisar) dibaca tenno (2 suku kata) dalam on-yomi, tetapi sumeramikoto (6 suku kata) dalam kun-yomi.
Selain itu, menggunakan Kanji dan syllabaries memungkinkan pembaca agar bisa menulis bahasa visual secara lebih efisien, tidak seperti alfabet. Sejak fonem Jepang dan struktur suku kata disederhanakan, jumlah syllabaries menjadi terbatas dibandingkan dengan milik Korea atau Vietnam. Selain itu, dengan menggunakan beberapa jenis karakter, seperti Kanji, Hiragana, Katakana, dan alfabet, Jepang dapat membaca kalimat lebih cepat, dan ini adalah keuntungan besar.
Tetapi, hal-hal yang berbeda mungkin terjadi di masa depan. Mungkin 100 atau 200 tahun kemudian, sejumlah besar kata-kata pinjaman Barat akan diperkenalkan ke Jepang, mendorong keluar ekspresi dari aksara asli China dan Jepang. Meningkatnya jumlah imigran akan membuat orang-orang mulai menggunakan alfabet untuk menulis. Pada akhirnya, Jepang meninggalkan Kanji, Hiragana, dan Katakana. Jadi, kemungkinan tidak ada lagi sastra asli lokal di zaman Jepang modern.

0 tanggapan:

Profil & Biaya Kursus Asuka Japanese Language School, Sekolah Bahasa Jepang di Oita

Asuka Japanese Language School merupakan sebuah lembaga pendidikan Bahasa Jepang yang telah didirikan oleh Yoshimi Tanaka sejak tahun 1992 silam di Oita, Jepang. Sekolah bahasa yang telah memiliki lebih dari 600 alumni ini menerapkan sistem pendidikan yang unik dan menerima murid dari berbagai negara dan kultur yang ada untuk mempelajari Bahasa Jepang secara lebih intensif di Asuka Japanese Language School, Oita.

Di Asuka Japanese Language School menyediakan banyak kelas berukuran kecil demi memastikan bahwa setiap murid dapat memperhatikan setiap materi yang disampaikan dengan baik. Bahkan di Asuka juga menerapkan sistem ‘Japanese Only’, yang mewajibkan para siswa di sana untuk berkomunikasi hanya dengan Bahasa Jepang. Dengan sistem ini penguasaan dan penerapan Bahasa Jepang dalam kehidupan sehari-hari pun menjadi lebih mudah.
Sebagian besar murid yang belajar di Asuka berasal dari negara-negara seperti Nepal, Vietnam, China, hingga Korea Selatan. Selain menawarkan program kursus Bahasa Jepang, Asuka memiliki program ekstrakurikuler yang bebas diikuti oleh seluruh siswa, juga dan menyediakan asrama untuk menampung para siswa yang menempuh pendidikan di sana.
Terdapat 2 jenis kursus di Asuka Japanese Language School, yakni kursus dengan durasi 1,5 tahun dan kursus dengan jangka waktu 2 tahun. Biasanya para murid dapat menguasai Bahasa Jepang dengan fasih sekitar 1,5 tahun. Berikut rincian biaya kursus di Asuka Japanese Language School dalam satuan mata uang Yen dan Rupiah.
Biaya Kursus 2 Tahun

Periode
Biaya Seleksi
Biaya Seleksi
Biaya Pendidikan 1 tahun
Biaya Materi Ajar 1 tahun
Biaya Fasilitas
Asuransi Kecelakaan
Total
Tahun Pertama
Setelah otorisasi kelayakan penduduk ditetapkan
¥ 20.000
(Rp 2,3 juta)
¥ 60.000
(Rp 7 juta)
¥ 590.000
(Rp 68,9 juta)
¥ 30.000
(Rp 3,5 juta)
¥ 50.000
(Rp 5,8 juta)
¥ 10.000
(Rp 1,1 juta)
¥ 760.000
(Rp 88,8 juta)
Februari


¥ 295.000
(Rp 34,4 juta)
¥ 10.000
(Rp 1,1 juta)
¥ 25.000
(Rp 2,9 juta)

¥ 330.000
(Rp 38,5 juta)
Tahun Kedua
Agustus


¥ 295.000
(Rp 34,4 juta)
¥ 10.000
(Rp 1,1 juta)
¥ 25.000
(Rp 2,9 juta)

¥ 330.000
(Rp 38,5 juta)

Biaya Kursus 1,5 Tahun

Periode
Biaya Seleksi
Biaya Seleksi
Biaya Pendidikan 1 tahun
Biaya Materi Ajar 1 tahun
Biaya Fasilitas
Asuransi Kecelakaan
Total
Tahun Pertama
Setelah otorisasi kelayakan penduduk ditetapkan
¥ 20.000
(Rp 2,3 juta)
¥ 60.000
(Rp 7 juta)
¥ 590.000
(Rp 68,9 juta)
¥ 30.000
(Rp 3,5 juta)
¥ 50.000
(Rp 5,8 juta)
¥ 10.000
(Rp 1,1 juta)
¥ 760.000
(Rp 88,8 juta)
Tahun Kedua
Agustus


¥ 295.000
(Rp 34,4 juta)
¥ 10.000
(Rp 1,1 juta)
¥ 25.000
(Rp 2,9 juta)

¥ 330.000
(Rp 38,5 juta)

Biaya Asrama
Biaya Masuk & Keluar Asrama
Biaya Asrama
Total
¥ 100.000
(Rp 11,7 juta)
¥ 138.000 (setengah tahun)
(Rp 16 juta)
¥ 238.000
(Rp 27,8 juta)

Jika Anda berminat untuk mempelajari Bahasa Jepang lebih dalam di Asuka Japanese Language School, Anda dapat menghubungi:
Asuka Japanese Language School
1-4-22 Higashi-omichi, Oita, 870-0823, Jepang
Telp: 097-544-9114
Fax: 097-544-9107
Perwakilan di Indonesia:
Mayantara School, Jl. Puncak Mandala 40A Raya Tidar Malang 65146
Telp: 0341-5081465, 081.333.666.139, 0856.49.779794

0 tanggapan:

Apakah Anime Lebih Menyenangkan Usai Belajar Bahasa Jepang?

Apakah Anda pernah mendengar istilah anime? Anime adalah animasi yang berasal dari Jepang yang digambar dengan tangan maupun teknologi komputer. Kata anime sendiri merupakan singkatan dari animation yang berasal dari bahasa Inggris. Di luar Jepang, istilah ini digunakan secara spesifik untuk menyebutkan segala animasi yang diproduksi di Negeri Sakura, meski tidak menutup kemungkinan bahwa anime juga dapat diproduksi di luar Jepang.

Di Indonesia, anime dikenal lewat bentuk komik dan juga acara di televisi. Khusus anime yang ditayangkan di TV Indonesia, umumnya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia untuk lebih mempermudah pemahaman mengenai jalannya isi cerita. Namun, bagi mereka piawai bahasa Jepang atau ingin belajar Jepang, biasanya cenderung menonton anime dalam versi aslinya.
Memang, ada banyak hal tentang bahasa Jepang yang bisa dipelajari melalui tontonan anime. Di sini, Anda bisa mendapatkan “speech melody” dan pengucapan suku kata Jepang. Selain itu, melalui anime, Anda juga akan memperoleh banyak nomina dan frase. Anime juga akan memberikan latar belakang emosional yang memfasilitasi proses belajar Anda.
Lalu, jika Anda telah belajar bahasa Jepang, apakah tontonan anime bisa lebih menyenangkan atau malah tidak? Jawabnya bisa iya, bisa pula tidak. Bisa iya karena Anda tidak lagi merendahkan diri dan terfokus pada teks, melainkan Anda bisa menghabiskan lebih banyak waktu pada karakter wajah, menikmati seni, dan menikmati tindakan atau aksi para tokoh, sehingga memungkinkan diri Anda untuk terlibat lebih dalam.
Namun, jawabannya bisa juga tidak, karena muncul banyak nimbus positif, yaitu bahwa ada perbedaan dan signifikansi lebih dalam untuk setiap kata yang diucapkan. Hal-hal yang mungkin dapat membuat Anda terpesona atau membuat Anda berpikir sebelumnya, sekarang muncul sebagai apa adanya mereka.
Meski demikian, bagi beberapa mereka yang memang gemar anime, pasti masih bisa menikmati menonton anime dangan banyak sub-judul, terutama ketika seri yang diharapkan muncul atau terbit. Hal ini terutama terjadi pada mereka yang tidak tinggal di Jepang, yang harus melakukan pemanasan pada sirkuit otak untuk menafsirkan bahasa Jepang, dan menjaganya untuk tetap fokus pada tiap-tiap episode yang ditonton.
Jika Anda telah menguasai bahasa Jepang, menonton anime juga dapat membuat Anda untuk mengambil rincian (memahami) linguistik. Misalnya, dengan latar belakang yang tepat dan pengalaman untuk “mendengarkan” nuansa yang dimaksudkan. Belum lagi ketika Anda tiba-tiba mengambil dan memahami kekhasan dalam gaya berbicara tiap-tiap karakter yang polos, yang mungkin mencerminkan sub-judul.
Singkat cerita, anime merupakan kick-start untuk minat mempelajari bahasa Jepang. Dan, dengan menguasai bahasa Jepang, pasti mengubah cara Anda untuk mengonsumsi anime. Karena, selain memperdalam pemahaman Anda tentang dunia anime, juga membuka alam semesta budaya Jepang yang mungkin tidak dapat dicapai dalam cara lain.

0 tanggapan: